Langsung ke konten utama

Senjakala Sastra?

kajian.jpg

Alkisah , kalangan filosof jerman pernah memusuhi sastra, meremehkan sastra dlm konstruksi dunia modern .Immanuel Kant (1724-1804)menganggap: "Membaca novel itu melemahkan ingatan dan menghancurkan karakter". Konon ,anggapan ini merupakan gaung filsafat Plato: menampik puisi sbg momok moralitas. kita menerima sangkaan itu dalam tegangan pemihakan antara nalar dan imajinasi.Filsafat membuat semainan rasionalitas untuk mengucap dan membentuk dunia. kuasa rasionalitaspun menepikan sastra, menginferiorisasi imajinasi, merubuhkan cerita .Zaman modern seolah bergerak dengan arogansi rasionalitas tapi imajinasi tak mati.
Memori ironi sastra itu hendak disanggah oleh J Hillis Miller dengan menguak perdebatan sengit sastra. Pertanyaan apa itu sastra diajukan kembali demi merengkuh hakikat sastra dalam zaman teknologis. Miller mengabarkan:"Akhir sastra sudah di depan mata. Era sastra sudah hampir berakhir." Kabar ini mirip lelucon di9ni hari, memberi luka dan sengat gagasan. Anutan sastra sebagai tulisan dalam bentuk cetak lekas tergantikan dengan dunia virtual. Sakralitas sastra muncul dari rahim institusi universitas, penerbit, perpustakaan & sekolah.Zaman berganti , sastrapun bergerak jauh. Radio, TV,sinema,dan internet menjadikan satra menggantikan peran imata bacai menjadi sensasi2 visualitas dan isimak katai dengan perubahan makna "tubuh pembaca".
Masa puncak sastra cetak menjelang epilog. Konon, satra cetak pernah menjadi medium kunci untuk menanamkan berbagai gagasan,ideologi,perilaku dan nilai dalam pamrih negara untuk mengonstruksi warga. Sastra menentukan identitas bangsa,merepresentasikan jelmaan mentalitas kemodernan. Peristiwa membaca sastra diartikan sebagai ritus, memerlukan iman dan relektivitas atas realitas dalam kultur literasi. Nostalgia ini surut oleh antusiasme mengurusi sastra dalam ekstase teknologi. Sastra cetak perlahan tersisihkan oleh penganggapan, pragmatisme, efisiensi melalui televisi, film, lagu, dan internet. Agenda menonton film dari cerita novel kerap dilakoni ketimbang membaca untuk membaca suntuk novel tercetak. Adegan memegang dan membaui buku tergantikan oleh tampilan di internet.      

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi : Rapuh

Rapuh Terpuruk dalam keangkuhan semua berawal dari insan yang durhaka semua hanya terasa kerapuhan  keegoisan menujukan sikap mulaiakah? aku hanya pucuk yang rapuh dalam kesenjaan belaka aku tak mengerti kau sungguh egois merenggut batin yang suci tersesak dada ini setelah  kau lambaikan keangkuhanmu tak ada lagi ruangkah? berawal dari kerakusan yang membawa pepucukan  menjadi rapuh dalam alunan sendu teramat dia amat rakus terhadap auksin rasa bukan pupuk yang dia beri untuk kesuburan....

Pucuk

 Tentang aku Ketahuilah tentang tautan rasa aku ini pepucuk ranting pepucuk daun dan bukan tunas dia hanya akan tumbuh bukan untuk berkembang dewasa namun menua dia takakan berujung bunga tapi akan tumbuh pucuk-pucuk baru kuharap kau bisa mengerti memahami dan mungkin dirimu lebih tau bahwa tentang pucuk dia butuh lebih banyak auksin rasa dan bukan pupuk rasa

Puisi

Terasa pahit memang serasa Keraguan memang pasti Kekeuatan hati yang tak terbendung Kehampaan akan beribu malam Bidadari kecil itu tersenyum Saat melihat tawa dan senyumku Tapi senyuman itu runtuh seketika saat Aku merajalela dalam kegelapan Sesaat tersesat tak ada yang menolong Hanya kehampaan yang menyelimuti kekuatan hati ini Terasa sesak dada ini Apakah semua itu cobaan ? Aku tak mengira semua itu terulang lagi Aku mencoba untuk bertahan dan berdo'a Semoga ALLAH mengabulakn do'aku Angin itu mulai menyisihkan untuk hati ini